Glitter Words

Friday, April 29, 2011

Pahlawan Islam Teragung & Tokoh Syahid Yg Luar Biasa

 ABDULLAH BIN ZUBEIR

Ketika Rasulullah SAW serta para sahabat tinggal di Madinah, orang-orang Yahudi berasa marah dan iri hati lalu melakukan perang saraf terhadap kaum Muslimin. Mereka menyebarkan berita bahawa dukun-dukun mereka telah menyihir kaum Muslimin dan menjadikan mereka mandul sehingga tak seorang pun dalam kalangan mereka akan mempunyai bayi!
Namun begitu, kelahiran bayi lelaki bernama Abdullah Bin Zubeir yang dilahirkan oleh Asma' telah menolak kebohongan orang-orang Yahudi di Madinah dan mematahkan tipu muslihat mereka. Bayi yang pertama kali lahir pada saat hijrah itu, dibawa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya di Madinah, maka diciumnya kedua pipinya dan dikucupn mulutnya, hingga yang mula pertama masuk ke rongga perut Abdullah bin Zubeir itu ialah air selera Rasulullah shallallahu ‘alaihi i wasallam yang mulia. Kaum Muslimin berkumpul dan beramai-ramai membawa bayi yang dalam gendongan itu berkeliling kota sambil membaca tahlil dan takbir.
Di masa hayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , Abdullah belum mencapai usia dewasa. Tetapi lingkungan hidup dan hubungannya yang akrab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, telah membentuk kepahlawanan dan prinsip hidupnya, sehingga derma baktinya dalam menempuh kehidupan di dunia ini menjadi buah mulut orang dan tercatat dalam sejarah dunia. Anak kecil itu membesar dengan amat cepatnya dan menunjukkan hal-hal yang luar biasa dalam keghairahan, kecerdasan dan keteguhan pendirian. Masa mudanya dilaluinya tanpa noda, seorang yang suci, tekun beribadat, hidup sederhana dan perwira tidak terkira ….
Demikianlah hari-hari dan peruntungan itu dijalaninya dengan tabi’atnya yang tidak berubah dan semangat yang tak pernah kendur. Beliau benar-benar seorang lelaki yang mengenal tujuannya dan menempuhnya dengan kemahuan yang keras membaja dan keimanan teguh luar biasa….
Sewaktu pembebasan Afrika, Andalusia dan Konstantinopel, beliau yang waktu itu belum melebihi usia tujuh belas tahun, tampak sebagai salah seorang pahlawan yang namanya terlukis sepanjang masa ….
Dalam pertempuran di Afrika sendiri, tentera Kaum Muslimin yang jumlahnya hanya 20 ribu , pernah menghadapi musuh yang berkekuatan sebanyak 120 ribu orang. Pertempuran berkecamuk, dan pihak Islam terancam bahaya besar! Abdullah bin Zubeir melayangkan pandangannya meninjau kekuatan musuh hingga segeralah diketahuinya di mana letak kekuatan mereka. Sumber kekuatan itu tidak lain dari raja Barbar yang menjadi panglima tenteranya sendiri. Tak putus-putusnya raja itu berseru terhadap tenteranya dan membangkitkan semangat mereka dengan cara istimewa yang mendorong mereka untuk menerjuni maut tanpa rasa takut ….
Abdullah maklum bahwa pasukan yang gagah perkasa ini tak mungkin ditaklukkan kecuali dengan jatuhnya panglima yang menakutkan ini. Tetapi betapa caranya untuk menemuinya, padahal untuk sampai kepadanya terhalang oleh tembok kukuh dari tentara musuh yang bertempur laksana angin puyuh … !
Tetapi semangat dan keberanian Ibnu Zubeir tak perlu diragukan lagi untuk selama-lamanya… Dipanggilnya sebahagian kawan-kawannya, lalu katanya: “Lindungi punggungku dan mari menyerbu bersamaku… !” Dan tak ubah bagai anak panah lepas dari busurnya, dibelahnya barisan yang berlapis itu menuju raja musuh, dan demi sampai di hadapannya, dipukulnya sekali pukul, hingga raja itu jatuh tersungkur. Kemudian secepatnya bersama kawan-kawannya, ia mengepung tentara yang berada di sekeiiling raja dan menghancurkan mereka, lalu dikumandangkannya Allahu Akbar… !
Demi Kaum Muslimin melihat bendera mereka berkibar di sana, yakni di tempat panglima Barbar berdiri menyampaikan perintah dan mengatur siasat, tahulah mereka bahwa kemenangan telah tercapai. Maka seolah-olah satu orang jua, mereka menyerbu ke muka, dan segala sesuatupun berakhir dengan kemenangan di pihak Muslimin … !
Abdullah bin Abi Sarah, panglima tentara Islam, mengetahui peranan penting yang telah diiakukan oleh Ibnu Zubeir. Maka sebagai imbalannya disuruhnya ia menyampaikan sendiri berita kemenangan itu ke Madinah terutama kepada khalifah Uthman bin Affan….Hanya kepahlawanannya dalam medan perang bagaimana juga unggul dan luar biasanya, tetapi itu tersembunyi di balik ketekunannya dalam beribadah ….Maka orang yang mempunyai tidak hanya satu dua alasan untuk berbangga dan menyombongkan dirinya ini akan menakjubkan kita karena selalu ditemukan dalam lingkungan orang-orang soleh dan rajin beribadat.
Maka baik darjat mahupun kemudaannya, kedudukan atau harta bendanya, keberanian atau kekuatannya, semua itu tidak mampu untuk menghalangi Abdullah bin Zubeir untuk menjadi seorang laki-laki ‘abid yang berpuasa di siang hari, bangun malam beribadat kepada Allah dengan hati yang khusyu’ niat yang suci.
Pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz mengatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah: “Cobalah ceritakan kepada kami kepribadian Abdullah bin Zubeir!” Maka ujarnya: “Demi Allah! Tak pernah kulihat Jiwa yang tersusun dalam rongga tubuhnya itu seperti jiwanya! Ia tekun melakukan shalat, dan mengakhiri segala sesuatu dengannya. … Ia ruku’ dan sujud sedemikian rupa, hingga karena amat lamanya, maka burung-burung gereja yang bertenggek di atas bahunya atau punggungnya, menyangkanya dinding tembok atau kain yang tergantung. Dan pernah peluru meriam batu lewat antara janggut dan dadanya sementara beliau shalat, tetapi demi Allah, beliau tidak peduli dan tidak goncang, tidak pula memutus bacaan atau mempercepat waktu ruku’ nya.
Memang, berita-berita sebenamya yang diceritakan orang tentang ibadat Ibnu Zubeir, hampir merupakan dongeng. Maka di dalam puasa dan shalat, dalam menunaikan haji dan serta zakat, ketinggian cita serta kemuliaan diri dalam bertenggang di waktu malam sepanjang hayatnya untuk bersujud dan beribadat, dalam menahan lapar di waktu siang, juga sepanjang usianya untuk puasa dan jihadun nafs, dan dalam keimanannya yang teguh kepada Allah …dalam semua itu beliau adalah tokoh satu-satunya tak ada duanya .
Pada suatu kali Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ditanyai orang mengenai Ibnu Zubeir. Maka walaupun di antara kedua orang ini terdapat perselisihan paham, Ibnu Abbas berkata: “Beliau adalah seorang pembaca Kitabullah, dan pengikut sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, tekun beribadat kepada-Nya dan shaum di siang hari karena takut kepada-Nya.. · Seorang putera dari pembela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ibunya ialah Asma puteri Shiddiq, sementara mak-tuanya ialah Khadijah isteri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka tak ada seorang pun sedang membicarakan khalifah yang telah pergi berlalu bernama Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, tanpa mengindahkan tata-tertib kesopanan dan tidak didasari oleh kesedaran, mereka dicelanya, katanya: “Demi Allah, aku tak sudi meminta bantuan dalam menghadapi musuhku kepada orang-orang yang membenci Uthman ”~ Pada saat itu beliau sangat memerlukan bantuan, tak ubah bagai seorang yang tenggelam membutuhkan pertolongan, tetapi huluran tangan orang tersebut ditolaknya Keterbukaannya terhadap pribadi serta kesetiaannya terhadap aqidah dan prinsipnya, menyebabkannya tidak peduli kehilangan 200 orang pemanah termahir yang Agama mereka tidak dipercayai dan berkenan di hatinya! Padahal waktu itu ia sedang berada dalam peperangan yang akan menentukan hidup matinya, dan kemungkinan besar akan berubah arah, seandainya pemanah-pemanah itu tetap berada di sampingnya.,,.!
Kemudian pembangkangannya terhadap Mu’awiyah dan puteranya Yazid sungguh-sungguh merupakan kepahlawanan! Menurut pandangannya, Yazid bin Mu’awiyah bin Abi Sufyan itu adalah lelaki yang terakhir kali dapat menjadi khalifah Muslimin, seandainya memang dapat … ! Pandangannya ini memang beralasan, kerana dalam soal apa pun jua, Tidak satu pun kebaikan dapat menghapus dosa-dosanya yang diceritakan sejarah kepada kita, maka betapa Ibnu Zubeir akan mahu bai’at kepadanya, ?
Kata-kata penolakannya terhadap Mu’awiyah selagi ia masih hidup amat keras dan tegas. Dan apa pula katanya kepada Yazid yang telah naik menjadi khalifah dan mengirim utusannya kepada Ibnu Zubeir mengancamnya dengan nasib yang buruk apabila ia tidak membai’at pada Yazid … ? Ketika itu Ibnu Zubeir memberikan jawabannya: “sampai bila pun, aku tidak akan bai’at kepada si pemabok … !” kemudian katanya berpantun : “Terhadap hal bathil tiada tempat berlunak lembut kecuali bila geraham dapat mengunyah batu menjadi lembut “.
Ibnu Zubeir tetap menjadi Amirul Mu’minin dengan mengambil Mekah al-Mukarramah sebagai ibu kota pemerintahan dan membentangkan kekuasaannya terhadap Hijaz, Yaman, Bashrah, Kufah, Khurasan dan seluruh Syria kecuali Damsyik, setelah beliau mendapat bai’at dari seluruh warga kota-kota daerah tersebut di atas.
Tetapi orang-orang Banu Umaiyah tidak senang diam dan berhati puas sebelum menjatuhkannya, maka mereka melancarkan serangan yang bertubi-tubi, yang sebagian besar di antaranya berakhir dengan kekalahan dan kegagalan. Hingga akhirnya datanglah masa pemerilitahan Abdul Malik bin Marwan yang untuk menyerang Abdullah di Mekah itu memilih salah seorang anak manusia yang paling celaka dan paling merajalela dengan kekejaman dan kebuasannya … ! Itulah dia Hajjaj ats-Tsaqafi, yang mengenai pribadinya, Umar bin Abdul Aziz, Imam yang adil itu pernah berkata: “Andainya setiap ummat datang dengan membawa kesalahan masing-masing, sedang kami hanya datang dengan kesalahan Hajjaj seorang saja, maka akan lebih berat lagi kesalahan kami dari mereka semua… !”
Dengan mengerahkan anak buah dan orang-orang upahannya, Hajjaj datang memerangi Mekah ibukota Ibnu Zubeir. Dikepungnya kota itu serta penduduknya, selama lebih kurang enam bulan dan dihalanginya mereka mendapat makanan dan air, dengan harapan agar mereka meninggalkan Ibnu Zubeir sebatang kara, tanpa tentara dan sanak saudara. Dan karena tekanan bahaya kelaparan itu banyaklah yang menyerahkan diri, hingga Ibnu Zubeir mendapatkan dirinya tidak berteman atau kira-kira demikian …. Dan walaupun kesempatan untuk meloloskan diri dan menyelamatkan nyawanya masih terbuka, tetapi Ibnu Zubeir memutuskan akan memikul tanggung jawabnya sampai titik terakhir. Maka ia terus menghadapi serangan tentara Hajjaj itu dengan keberanian yang tak dapat dilukiskan, padahal ketika itu usianya telah mencapai tujuh puluh tahun Dan tidaklah dapat kita melihat gambaran sesungguhnya dari pendirian yang luar biasa ini, kecuali jika kita mendengar percakapan yang berlangsung antara Abdullah dengan ibunya yang agung dan mulia itu, Asma’ binti Abu Bakar, yakni di saat-saat yang akhir dari kehidupannya. Ditemuinya ibunya itu dan dipaparkannya di hadapannya suasana ketika itu secara terperinci, begitupun mengenai akhir kesudahan yang sudah nyata tak dapat dielakkan lagi ….
Kata ‘Asma’ kepadanya: “Anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu! Apabila menurut keyakinanmu, engkau berada di jalan yang benar dan berseru untuk mencapai kebenaran itu, maka shabar dan tawakallah dalam melaksanakan tugas itu sampai titik darah penghabisan. Tiada kata menyerah dalam kamus perjuangan melawan kebuasan budak-budak Bani Umaiyah … ! Tetapi kalau menurut pikiranmu, engkau hanya mengharapkan dunia, maka engkau adalah seburuk-buruk hamba, engkau celakakan dirimu sendiri serta orang-orang yang tewas bersamamu!”
Ujar Abdullah: “Demi Allah, wahai bunda! Tidaklah ananda mengharapkan dunia atau ingin hendak mendapatkannya… ! Dan sekali-kali tidaklah anakanda berlaku aniaya dalam hukum Allah, berbuat curang atau melanggar batas … !”
Kata Asma’ pula: – ‘Aku memohon kepada Allah semoga ketabahan hatiku menjadi kebaikan bagi dirimu, baik engkau mendahuluiku menghadap Allah maupun aku. Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, puasa sepanjang siang dan bakti kepada kedua orang tuanya, Engkau terima disertai cucuran Rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu tentang dirinya kepada kekuasaan-Mu, dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Zubeir ini, pahalanya orang-orang yang sabar dan bersyukur … !”
Kemudian mereka pun berpelukan menyatakan perpisahan dan selamat tinggal.. Dan beberapa saat kemudian, Abdullah bin Zubeir terlibat dalam pertempuran sengit yang tak seimbang, hingga syahid agung itu akhirnya menerima pukulan maut yang menewaskannya. Peristiwa itu menjadikan Hajjaj kuasa Abdul Malik bin Marwan berkesempatan melaksanakan dendam kesumatnya, hingga tak ada jenis kebiadaban yang lebih keji kecuali dengan menyalib tubuh syahid suci yang telah beku dan kaku itu.
Bundanya, wanita tua yang ketika itu telah berusia sembilan puluh tujuh tahun, berdiri memperhatikan puteranya yang disalib. Dan bagaikan sebuah gunung yang tinggi, ia tegak menghadap ke arahnya tanpa bergerak. Sementara itu Hajjaj datang menghampirinya dengan lemah lembut dan berhina diri, katanya: “Wahai ibu, Amirul Mu’minin Abdul Malik bin Marwan memberiku wasiat agar memperlakukan ibu dengan baik … !” “Maka adakah kiranya keperluan ibu ?. Bagaikan berteriak dengan suara berwibawa wanita itu berkata: “Aku ini bukanlah ibumu … ! Aku adalah ibu dari orang yang disalib pada tiang karapan ..!
Tiada sesuatu pun yang kuperlukan daripadamu. Hanya aku akan menyampaikan kepadamu sebuah Hadis yang kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sabdanya:
“Akan muncul dari Tsaqif seorang pembohong dan seorang durjana …! Adapun si pembohong telah sama-sama kita hetahui ….!Adapun si durjana, sepengetahuanku hanyalah kamu ”
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu datang menghiburnya dan mengajaknya bershabar. Maka jawabnya: “Kenapa pula aku tidak akan sabar, padahal kepala Yahya bin Zakaria sendiri telah diserahkan kepada salah seorang durjana dari durjana-durjana Bani Isra’il !”.
Oh, alangkah agungnya anda, wahai puteri Abu Bakar Shiddiq radhiyallahu ‘anhu … ! Memang, adakah lagi kata-kata yang lebih tepat diucapkan selain itu kepada (orang-orang yang telah memisahkan kepala Ibnu Zubeir dari tubuhnya sebelum mereka menyalibnya !
Tidak salah! Seandainya kepala Ibnu Zubeir telah diberikan sebagai hadiah bagi Hajjaj dan Abdul Malik, maka kepala Nabi yang mulia yakni Yahya ‘alaihissalam dulu juga telah diberikan sebagai hadiah bagi Salome, seorang wanita yang durjana dan hina dari Bani Israil … ! Sungguh, suatu tamsil yang tepat dan kata-kata yang jitu … !
Kemudian mungkinkah kiranya bagi Abdullah bin Zubeir akan melanjutkan hidupnya di bawah tingkat yang amat tinggi dari keluhuran, keutamaan dan kepahlawanan ini, sedangkan yang menyusukannya ialah wanita yang demikian corak bentuknya .
Salam kiranya terlimpah atas Abdullah … ! Dan kiranya terlimpah pula atas Asma’…!
Salam bagi kedua mereka di lingkungan syuhada yang tidak pernah fana… !
Dan di lingkungan orang-orang utama lagi bertaqwa.
.::AllahFilQalb::.

*ILuvIslam
*http://www.kisah.web.id
*http://ustazshauqi.blogspot.com

Umpatan Yang Dibolehkan

1. Orang Yang Teraniaya:
Orang yang teraniaya bolehh mengadu kepada pemerintah perihal individu yang menganiayai dirinya.

2. Memohon Bantuan:
Dibolehkan mendedahkan keburukan seseorang kepada pihak berkuasa dengan tujuan mencegah pelakunya daripada melakukan kemungkaran.

3. Meminta Fatwa:
Seseorang individu boleh mendedahkan aib orang yang menzaliminya bagi mendapatkan pandangan dan hukum daripada mufti atau orang yang dipercayai boleh memberi fatwa.

4. Mengambil Pengajaran dan Untuk Mencegah Kepalsuan:
Umpatan sebegini dibolehkan sebagaimana ulama' hadis mencela dan menyebut keburukan dengan keras golongan pemalsu hadis untuk menjaga kesucian Nabi SAW.

5. Melakukan Maksiat Secara Terang-Terangan:
Dibenarkan menceritakan keburukan orang yang melakukan maksiat secara terbuka bagi mengelakkan orang lain terpengaruh dengannya.

6. Sebagai Tanda Pengenalan:
Dibenarkan jika nama sebenarnya tidak diketahui orang lain.
.::AllahFilQalb::.

*Imam Nawawi(Riyadhus Salihin)

Tuesday, April 26, 2011

Jangan Nikahi Wanita Ini

Dicatat oleh Imam Al-Ghazali "Jangan engkau nikahi wanita yang enam iaitu wanita yang Ananah, Mananah, Hadaqah, Hananah, Baraqah dan Syadaqah.


Wanita Ananah:
Banyak mengeluh dan mengadu dan tiap saat memperalatkan sakit atau buat-buat sakit.

Wanita Mananah:
Suka membangkit-bangkit terhadap suami. Wanita ini sering menyatakan "aku membuat itu keranamu".

Wanita Hadaqah:
Melemparkan pandangannya pada tiap sesuatu, lalu menyatakan keinginannya untuk memiliki barang itu dan memaksa suami untuk membelinya.

Wanita Hananah:
Menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain, yang dikahwininya sebelum ini.

Wanita Baraqah:
Terdapat dua makna. Pertama, sepanjang hari mengilatkan  dan menghias wajahnya. Kedua, dia marah ketika makan dan tidak mahu makan kecuali sendirian dan diasingkan bahagiannya.

Wanita Syadaqah:
Banyak cakap dan bising.

.::AllahFilQalb::.
>ILUVISLAM

Sunday, April 24, 2011

Serikandi Islam yang Berani

Khaulah Al-Azwar merupakan seorang wanita yang hidup di zaman Sahabat RA. Khaulah memiliki kekuatan jiwa dan fizikal yang kuat. Susuk tubuhnya tinggi lampai dan tegap. Sejak kecil beliau sudah pandai bermain pedang dan tombak. Rasulullah s.a.w. telah membenarkan Khaulah menyertai angkatan peperangan muslimin bersama-sama mujahidah yang lain.

Beliau adik kepada Dhiraar Al-Azwar yang kehandalannya di medan perang sememangnya tidak asing bagi bagi pencinta sirah Islam. Teknik bertempur ini turut diwariskan kepada Khaulah oleh ayahnya Al-Azwar. Khaulah lantas menjadi seorang wanita yang mahir berpedang dan berkuda. Jika diteliti sirah mujahidah ini, boleh dikatakan beliau ialah pahlawan muslimat paling handal dalam sejarah Islam.

Dalam perang Yarmuk, beliau menjadi salah seorang yang menonjol atau memimpin kaum wanita yang turut serta terlibat. Bahkan, beliau turut mengalami kecederaan di kepala dalam peperangan yang sangat bersejarah itu.

Dalam peperangan itu, Dhiraar Al-Azwar, pahlawan perang yang terkenal dengan keberanian sehebat seribu perajurit ditawan pasukan Romawi. Keadaan itu menyebabkan Khalid begitu marah dan memerintahkan pasukannya membebaskan Dhiraar.
Dengan berpakaian hitam, serban hijau dan menggunakan skarfnya sebagai topeng, beliau yang menyertai pasukan Khalid bin Al-Waleed meluncur laju ke arah musuh, bertempur dengan handal dan cermat; membantu tentera Muslimin yang ketika itu sudah keletihan berlawan.
Keberanian perajurit bertopeng itu mengejutkan pasukan Romawi.Panglima Khalid begitu kagum dan berasa hairan. Siapakah perajurit bertopeng itu?

Ketika ditanya, perajurit bertopeng itu mengelak tetapi Khalid terus mendesak. Akhirnya, rahsia terbongkar.
“Wahai panglima. Aku tidak mengelak darimu kecuali kerana rasa malu terhadapmu. Anda seorang panglima besar, sedangkan aku wanita. Tetapi. Aku terpaksa melakukan ini kerana hatiku sakit dan marah.
“Aku adalah Khaulah binti Al Azwar. Aku sedang bersama wanita kaumku. Kemudian datang orang memberi khabar bahawa saudaraku Dhiraar ditawan, maka aku pun menaiki kuda dan melakukan apa yang anda lihat ini.”

Khalid sedih bercampur hairan, mengapa wanita sanggup keluar ikut berjihad dengan gigih untuk menyelamatkan tawanan perang.Sejak itu, Panglima Khalid bersumpah menyelamatkan Dhiraar. Peperangan terus berkecamuk dan akhirnya, kemenangan berpihak kepada pasukan Arab. Dhiraar berjaya dibebaskan daripada tawanan Romawi.

Demikian sejarah perjuangan Islam yang disertai serikandi Islam yang tidak gentar bertempur bersama perajurit lelaki. Mereka berada di belakang pasukan kerana jika ada perajurit yang luka, mereka yang merawatnya.

Hingga zaman pemerintahan Usman bin Affan, Khaulah menyaksikan pelbagai peristiwa dan bencana. Kegigihannya di medan peperangan menimbulkan kekaguman seperti peristiwa pertempuran bertopeng itu.
Suatu ketika, kepala perajurit Romawi menjadi mangsa pukulan tiang khemah yang dicabut Khaulah ketika beliau memimpin wanita yang bersamanya di medan peperangan.

Ia berlaku ketika pertempuran pasukan Arab dan Romawi kedua di Maraj Daabiq. Sekali lagi, Khaulah kehilangan saudara lelakinya, Dhiraar, yang ditawan musuh. Kesedihannya digarap pada syair dan tangisan yang mendorong semangat pasukan Islam untuk menuntut Romawi membebaskan Dhiraar.
Beberapa wanita lain yang suami mereka menjadi tawanan turut memberi semangat supaya tentera Islam lebih berani.

Pasukan Arab berjaya menyerbu daerah utara Syam dan mengepung Antarkia manakala beberapa tawanan dibebaskan, termasuk Dhiraar. Malangnya Khaulah dan beberapa wanita lain pula menjadi tawanan Romawi.
Dalam tawanan pasukan musuh itu, Khaulah tidak menyerah kalah. Beliau berseru kepada temannya: “Hai puteri Himsyar sisa keturunan Tubba, apakah kalian rela menjadi tawanan Romawi dan anak kalian menjadi budak mereka?

“Lebih baik kita mati daripada menjadi tawanan yang hina dan melayan Romawi keparat.”
Dengan semangat pantang menyerah, Khaulah mengetuai teman tawanan wanita dengan mengambil tiang khemah. Bersenjatakan tiang itu, mereka melawan pasukan Romawi dengan memukul kepala mereka. Berkat keberanian itu, mereka berjaya membebaskan diri.
 "Keyakinan kepada Allah ibarat air  kedamaian yang tidak pernah kering menjadikan muslim & muslimah tetap tegar di saat orang lain berguguran dan tetap tenang di saat orang lain ketakutan"

          

Friday, April 15, 2011

exAm zOnE!!!!

salam "exam mood" buat sahabat2 di Kolej Universiti Insaniah yang akan menghadapi 'final exam' bermula hari ahad ni . tak lupa juga buat teman2 di ipta2 yang sama waktu dengan kami di sini :)
selamat membaca n menghafal utk korang semua terutama sekali kuliah syariah tahun dua . semoga jadual yang padat sangat2 tu menguatkan lagi semangat kita untuk belajar bersungguh2...hehhee
   ingat! 'dont study hard but study smart' =D 
CM doakan korang semua dapat menjawab dengan tenang n CM akan selalu doakan kejayaan korang . korang pun jangan lupakan doa bt CM jugak taw. semoga kita sama2 mencapai kejayaan yang kita impikan :)
  
"dalam kita melangkah , kekadang diuji dengan ujian yang terasa berat hingga kita terduduk dan menangis . peritannya terasa tapi ketahuilah dan renungilah kembali ke dalam diri kita kerana mungkin airmata tika itu hadir kerana Dia mahu kita menjahit kembali sejadah iman yang kian terkoyak lantaran ada langkah-langkah yang tersasar dari keikhlasan . semoga kita tabah dan ditetapkan IMAN dan diberi KEJAYAAN . Amiin"

بالتوفيق والنجاح

my love for all of u :)

Tuesday, April 12, 2011

Naelah al-Farafisyah...

                          Tonggak kekuatan Khalifah Uthman Al-Affan

Beliau seorang wanita yang cantik dan akhlaknya , isteri Khlifah Uthman bin Affan . Seorang isteri yang ikhlas , setia dan taat pada suami . Meskipun Naelah bukannya dari golongan wanita Quraisy , mempunyai ayah penganut agama nasrani namun beliau tetap menonjol dari kalangan muslimah ketika itu . Ini disebabkan kelebihan kecantikkan , kebijaksanaan , kefasihan lidahnya serta kematangan fikirannya . Paling membahagiakan , beliau adalah seorang isteri yang ikhlas , setia dan taat kepada suami tercinta kala ditimpa kesusahan atau musibah.
 Ketika berlaku pemberontakan pada waktu pemerintahan Khalifah Uthman al-Affan , Naelah tidak pernah berjauhan dengan suaminya . Beliau sentiasa memberi semangat dan keyakinan kepada Khalifah Uthman al-Affan agar terus tabah dan sabar dalam meneruskan perjuangan suci itu.
Peristiwa pengepungan selama 50 hari rumah Khalifah Uthman menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Naelah terhadap suaminya . Kaum pemberontak tidak henti-henti melempar rumah Khalifah dengan batu-batu dan panah . Tiga orang telah terbunuh . Meskipun Abdullah telah membuat perjanjian bertulis kepada orang ramai supaya jangan berbuat sesuatu terhadap Khalifah , namun masih ada dua orang yg melanggar perintah itu . Muhammad bin Abu Bakar yg mengetuai pembelotan itu.
Kedua lelaki tersebut telah berada dihadapannya . Lelaki pertama menghayunkan pedangnya pada Khalifah tetapi dengan pantas Naelah menahan dengan tangannya sehingga terputus jari-jari halusnya . Naelah menjerit kesakitan dan memanggil Rabah yang akhirnya membunuh lelaki tersebut . Kemudian datang Muhammad bin Abu Bakar , dia menghayun pedangnya dan Naelah menahannya lagi sehingga terhiris jari-jari tangan yang lain.

Muhammad mencabut janggut Khalifah , memukul kepala dan menikamnya . Dia menyelar tubuh Khalifah dengan pedang sedangkan sewaktu itu beliau masih hidup . Apabila Muhammad Hendak memotong kepala Khalifah , badan Naelah sendiri yang menahannya bersama puteri Syibah. Mereka berdua ditolak lalu di pijak-pijak . Sesudah pembunuhan itu , tidak seorang pun yang berani datang untuk memandi dan mengebumikan jenazah beliau sehingga Naelah menghantar utusan kepada Jubair bin Hizam dan Huwaitib bin Abd Uzza , mereka tidak berani mengebumikannya di waktu siang . Akhirnya mereka keluar antara Maghrib dan Isyak untuk menanam jenazah Khalifah . Naelah mendahului dengan membawa lampu kecil untuk menerangi malam.
 
Berita kematian Khalifah tersebar luas . Dan peristiwa inilah yang membawa perselisihan antara Saidina Ali dan Muawiyah yang telah mengorbankan ratusan ribu nyawa umat islam . Naelah telah menghantar sepucuk surat kepada Muawiyah yang berbunyi "Jika dua golongan dari kaum itu berperang , hendaklah kamu damaikan antara keduanya . Dan jika yang satu dari keduanya melanggar perjanjian kepada yang lain , maka perangilah yang melanggar perjanjian itu sehingga mereka kembali kepada Allah".
 
Naelah menghantar surat itu bersama pakaian Khalifah Uthman yang telah koyak dan berlumuran darah . Pada butang bajunya diikat segumpal janggut yang dicabut oleh Muhammad Bin Abu Bakar . Beliau turut mengirimkan lima jari yang terpotong . Walaupun telah beberapa lama kematian suami, kesedihan tetap menyelubungi hatinya . Kesedihan Naelah tidak pernah putus sehinggalah Muawiyah meminangnya . Naelah menolak dan mematah-matahkan giginya sehingga orang lain bertanya, "Mengapakah kamu mematah-matahkan gigi mu yang cantik itu?". Lalu Naelah menjawab, "Aku tidak mahu kesedihanku pada Uthman menjadi pudar sebagaimana pudarnya kain-kain buruk dan aku tidak mahu lelaki lain mengetahui apa yang ada pada diriku , sebagaimana diketahui oleh Uthman".
 
Sebagai seorang sasterawan dan penyair, Naelah banyak mengubah sajak dan syair yang diabadikan buat suaminya . Sesungguhnya , Naelah al-Farafisyah merupakan seorang serikandi Islam yang sanggup menggadaikan jiwa raga demi mempertahankan nyawa dan keselamatan suaminya dan agama Islam . Betapa tingginya semangat juang yang beliau tunjukkan sebagai seorang muslimah dan inilah tonggak kekuatan sebenar seorang suami.
Mampukah kita menjadi pembakar semangat , pengubat sakit , taat & setia disisi seorang insan bergelar suami sepanjang hayat kita ?
Mampukah kita mencontohi serikandi Islam , Naelah al-Farafisyah ?
*Salam mahabbah buat sahabat-sahabatku & muslimah-muslimah yang selalu mendambakan cinta Ilahi . NAinZ berharap kisah yang NAinZ kongsikan ini beerti buat kita semua . Semoga kita juga mampu menjadi seperti Naelah al-Farafisyah dalam mempertahankan Islam tercinta . Semoga kita mampu menjadi tonggak kekuatan seorang suami dalam perjuangannya . Amiin (:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...